Indonesia kini semakin terpuruk dalam kegelapan, bukan karena kurangnya listrik, tetapi karena korupsi yang merajalela dan kebijakan yang tak berpihak pada rakyat kecil. Segala aspek kehidupan, termasuk hajat hidup orang banyak, menjadi ladang bancakan para koruptor. Sementara hukum seakan hanya bekerja jika ada sorotan publik, pembangunan desa terabaikan, harga kebutuhan pokok melambung tinggi, dan petani semakin terpinggirkan. Di tengah semua itu, pemerintah justru sibuk membangun citra untuk menutupi boroknya, membuat banyak orang kehilangan harapan dan memilih pergi dari negeri ini.
Korupsi: Penyakit Kronis yang Menghancurkan Negeri
Korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar praktik gelap di balik layar, melainkan sudah menjadi tontonan sehari-hari. Kasus-kasus besar seperti korupsi bansos, proyek infrastruktur fiktif, hingga penggelapan dana desa menunjukkan betapa sistem ini telah bobrok dari akar. Ironisnya, mereka yang tertangkap pun sering kali hanya mendapat hukuman ringan, sementara mereka yang melawan korupsi justru ditekan dan dikriminalisasi.
Bahkan, hajat hidup orang banyak pun tak lepas dari tangan para pencuri berdasi. Dari minyak goreng, beras, hingga pupuk yang seharusnya mudah diakses rakyat, malah menjadi barang mahal akibat permainan mafia yang berkolaborasi dengan oknum di pemerintahan. Sementara itu, rakyat kecil hanya bisa menggigit jari, berjuang sendiri di tengah himpitan ekonomi yang semakin menyesakkan.
Penegakan Hukum: No Viral, No Justice
Di Indonesia, keadilan bukanlah hak semua orang, melainkan hak bagi mereka yang suaranya cukup keras di media sosial. Kasus-kasus hukum sering kali diabaikan kecuali jika sudah viral. Laporan masyarakat miskin kerap tak ditindaklanjuti, sementara mereka yang punya kuasa bisa dengan mudah lolos dari jerat hukum.
Hukum menjadi alat bagi penguasa, bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Para pejabat dan elit politik yang terlibat kasus besar bisa dengan mudah mendapat keringanan atau bahkan bebas begitu saja. Sebaliknya, rakyat kecil yang hanya mencuri karena lapar dihukum berat tanpa ampun.
Pembangunan Desa yang Tak Pernah Disentuh
Pembangunan desa seharusnya menjadi prioritas, mengingat mayoritas rakyat Indonesia tinggal di perdesaan. Namun, kenyataannya, infrastruktur desa masih jauh dari kata layak. Jalanan rusak, jembatan ambruk, dan fasilitas publik minim perhatian. Anggaran desa yang seharusnya untuk pembangunan malah raib entah ke mana.
Di saat kota-kota besar terus dipoles demi pencitraan, desa-desa dibiarkan merana. Listrik masih sulit di beberapa daerah, akses internet terbatas, dan layanan kesehatan serta pendidikan jauh dari memadai. Pemerintah hanya peduli pada desa ketika ada momen politik, lalu menghilang setelahnya.
Petani: Pilar Bangsa yang Ditinggalkan
Di negara agraris seperti Indonesia, petani seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi. Namun, realitasnya, mereka justru menjadi kelompok yang paling terpinggirkan. Harga pupuk mahal, harga jual hasil panen anjlok, sementara biaya produksi terus meningkat.
Akibatnya, banyak petani yang merugi dan akhirnya memilih berhenti bertani. Mereka yang masih bertahan pun harus berjuang sendiri tanpa dukungan berarti dari pemerintah. Alih-alih memberikan solusi, pemerintah justru membuka pintu impor lebar-lebar, membuat petani lokal semakin terhimpit dan kehilangan daya saing.
Negara yang Sibuk Membangun Citra
Di tengah berbagai persoalan ini, pemerintah bukannya fokus membenahi keadaan, melainkan sibuk membangun citra. Segala kekacauan ditutupi dengan propaganda, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Media dijadikan alat untuk menampilkan narasi yang menguntungkan, sementara kritik dibungkam dengan berbagai cara.
Setiap kali ada kegagalan, pemerintah lebih memilih menyalahkan pihak lain daripada bertanggung jawab. Mereka sibuk mengurus pencitraan dan membangun proyek-proyek besar yang lebih berorientasi pada keuntungan segelintir orang daripada kepentingan rakyat banyak.
Haruskah Kita Menyerah?
Banyak orang kini kehilangan harapan pada negeri ini. Anak muda semakin enggan tinggal di Indonesia karena melihat masa depan yang suram. Mereka yang punya kesempatan memilih keluar, mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Namun, apakah kita harus menyerah? Tidak. Justru inilah saatnya rakyat bersatu untuk menuntut perubahan. Jika kita terus diam, maka kegelapan ini akan semakin pekat, dan korupsi akan semakin menggila. Indonesia butuh perlawanan dari rakyatnya sendiri, bukan hanya melalui media sosial, tetapi juga melalui aksi nyata.
Kita tak bisa berharap pada pemerintah yang sibuk menyelamatkan citranya sendiri. Perubahan hanya bisa terjadi jika rakyat bergerak, melawan ketidakadilan, dan menuntut hak mereka. Jika tidak, maka Indonesia akan benar-benar tenggelam dalam kegelapan, dikuasai oleh para koruptor yang terus menggerogoti negeri ini tanpa ampun.