Saat ini, bangsa kita sedang sakit. Tidak hanya dalam arti ekonomi yang semakin sulit, tetapi juga dalam moral, kepemimpinan, dan keadilan sosial. Rakyat kecil semakin terhimpit, sementara para pemimpin sibuk membangun citra diri, menutup borok kebijakan yang merugikan rakyat.
Kita lihat di lapangan, petani menjerit karena pupuk palsu beredar luas. Program seperti PKH (Program Keluarga Harapan) yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial malah menjamur tanpa kontrol yang jelas. Subsidi yang tidak tepat sasaran menambah ketimpangan, membuat banyak orang lebih memilih bertahan dalam ketergantungan daripada berjuang keluar dari kemiskinan.
Di sektor energi, BBM dioplos. Rakyat yang sudah susah malah harus menghadapi risiko kendaraan rusak akibat bahan bakar yang tidak standar dan mahal dengan standar rendah. Harga-harga naik, tetapi upah dan kesempatan kerja justru semakin sulit. Banyak yang bekerja serabutan, tanpa kepastian penghasilan.
Namun, di tengah kondisi ini, para pemimpin lebih sibuk berakrobat politik, menutupi kegagalan dengan pencitraan. Mereka berkeliling membagi-bagi bantuan yang tidak menyentuh akar masalah, memoles wajah agar tampak peduli, sementara kebijakan yang mereka buat justru memperburuk keadaan.
Kita butuh perubahan. Bukan sekadar janji manis, tetapi keberanian untuk membersihkan sistem yang bobrok. Rakyat harus lebih cerdas dalam menilai, tidak lagi terbuai dengan pencitraan kosong. Jika tidak, bangsa yang sakit ini akan semakin kritis, dan kita hanya akan menjadi saksi dari kehancuran yang dibiarkan.