Sejarah mencatat betapa VOC, sebuah perusahaan Belanda, mampu menjajah Nusantara selama 300 tahun. Mereka memaksa rakyat menanam rempah-rempah yang dibeli dengan harga murah, hasilnya diekspor untuk memperkaya negeri mereka. Ironisnya, di era digital ini, kita kembali menjadi "tanah jajahan" oleh perusahaan asing, kali ini dalam bentuk raksasa teknologi seperti Meta.
Dulu, rakyat dipaksa kerja rodi di ladang rempah. Sekarang, kita bekerja keras menciptakan konten demi algoritma, berharap recehan dari sistem monetisasi. Kita sibuk mengejar "engagement," mengorbankan waktu, tenaga, bahkan data pribadi, demi keuntungan perusahaan yang tidak peduli pada kesejahteraan kita. Apakah ada bedanya? VOC mengeksploitasi hasil bumi, Meta mengeksploitasi pikiran dan privasi kita.
Lebih menyedihkan lagi, penjajahan ini sering dianggap "normal." Kita beramai-ramai menyumbang konten gratis untuk memperkaya platform asing, tanpa sadar bahwa setiap klik, setiap like, dan setiap detik yang dihabiskan di sana adalah kerja rodi modern. Kita tidak hanya menjadi buruh digital, tapi juga produk yang dijual kepada pengiklan.
Mengapa kita tidak sadar? Mungkin, seperti di masa VOC, mental kita belum berubah. Kita terbiasa menjadi "pengemis" di tanah sendiri, menunggu belas kasihan sistem yang tidak pernah benar-benar berpihak pada kita. Atau mungkin, kita sudah terlalu nyaman dalam ketidaktahuan, menganggap semua ini sebagai bagian dari kehidupan modern.
Jika VOC bisa bertahan 300 tahun, akankah kita membiarkan penjajahan digital ini berlangsung selama itu juga? Atau, sudah saatnya kita bangkit, menyadari bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya soal tanah, tapi juga tentang data, ekonomi, dan waktu kita yang berharga. Kita perlu mendobrak siklus ini, mulai membangun ekosistem digital yang berpihak pada rakyat sendiri, bukan tunduk pada korporasi asing.
Penjajahan, dalam bentuk apapun, tidak boleh dianggap biasa. Ini bukan soal nostalgia sejarah, tapi tentang masa depan yang perlu kita perjuangkan bersama.